Rabu, 07 Mei 2014

Kita



Dia sedang menopang dagunya. Beberapa helai rambutnya tersemat di belakang kuping. Kulangkahkan kakiku mendekat. Duduk di ayunan sampingnya. Beberapa hari lagi aku akan berangkat ke Jepang, melanjutkan studiku.
                “Kau ingat pertama kali kita bertemu?” ucapku pelan. Kutatap perempuan yang ada di sebelahku. Matanya menatap ke depan. Tapi kutahu, tak ada pemandangan yang di tatapnya. Dia masih terdiam.
                “Waktu itu, hanya dalam beberapa waktu mengenalmu, aku tahu hatiku telah tercuri. Lewat manik mata hitammu, lewat senyummu, lewat ramahmu, hatiku tercuri dari diriku.” Kuarahkan pandanganku ke depan. Menatap mentari sore yang menawan, tapi tidak saat ini.
                “Kau akan pergi.” Ucapnya. Tak sedikit pun menoleh ke arahku.
                “Ya, tapi cinta tak mungkin berhenti secepat aku jatuh hati. Jatuhkan hatiku kepadamu sehingga hidupku pun berarti. Kau tahu aku mencintaimu.”
                “Aku tahu.”
                “Kau tak ingin menanyakan apakah aku akan setia padamu?” tanyaku.
                “Perlukah aku menanyakannya.” Dia menatapku.
                Aku menggeleng. Tersenyum menatapnya.
                “Lalu apa yang kau khawatirkan?” tanyaku penasaran.
                “Aku hanya takut, kau akan sangat merindukanku.” ucapnya sambil tersenyum lebar, memamerkan gigi kelincinya. Dia beranjak dari ayunan. Berlari menjauh.
                “Kau mengerjaiku.” ucapku ikut beranjak. Berlari mengejarnya. Ya, aku benar-benar akan merindukanmu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar