Dia sedang menopang dagunya.
Beberapa helai rambutnya tersemat di belakang kuping. Kulangkahkan kakiku
mendekat. Duduk di ayunan sampingnya. Beberapa hari lagi aku akan berangkat ke
Jepang, melanjutkan studiku.
“Kau
ingat pertama kali kita bertemu?” ucapku pelan. Kutatap perempuan yang ada di
sebelahku. Matanya menatap ke depan. Tapi kutahu, tak ada pemandangan yang di
tatapnya. Dia masih terdiam.
“Waktu
itu, hanya dalam beberapa waktu mengenalmu, aku tahu hatiku telah tercuri.
Lewat manik mata hitammu, lewat senyummu, lewat ramahmu, hatiku tercuri dari
diriku.” Kuarahkan pandanganku ke depan. Menatap mentari sore yang menawan,
tapi tidak saat ini.
“Kau
akan pergi.” Ucapnya. Tak sedikit pun menoleh ke arahku.
“Ya,
tapi cinta tak mungkin berhenti secepat aku jatuh hati. Jatuhkan hatiku
kepadamu sehingga hidupku pun berarti. Kau tahu aku mencintaimu.”
“Aku
tahu.”
“Kau
tak ingin menanyakan apakah aku akan setia padamu?” tanyaku.
“Perlukah
aku menanyakannya.” Dia menatapku.
Aku
menggeleng. Tersenyum menatapnya.
“Lalu
apa yang kau khawatirkan?” tanyaku penasaran.
“Aku
hanya takut, kau akan sangat merindukanku.” ucapnya sambil tersenyum lebar,
memamerkan gigi kelincinya. Dia beranjak dari ayunan. Berlari menjauh.
“Kau
mengerjaiku.” ucapku ikut beranjak. Berlari mengejarnya. Ya, aku benar-benar
akan merindukanmu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar