Hujan
pertama setelah kemarau panjang telah reda. Dua kopi hitam yang kuseduh satu
jam lalu sudah mulai dingin. Uapnya yang tadi mengepul sudah lenyap. Bau
harumnya terganti dengan petricor. Apakah
dia akan tetap mencintaiku setelah kuceritakan diriku yang sebenarnya? Aku bisa
merasakan bahwa banyak hal yang berkecamuk dalam kepalanya. Aku mungkin tak
seperti yang ia bayangkan selama ini.
Mencintai
seseorang berarti menerima segala yang ada padanya. Berkomitmen untuk bersama.
Menerima segala masa lalunya, sekarang, dan masa depannya. Mengijinkan
seseorang mencintai kita berarti membiarkannya memasuki kehidupan kita,
membiarkannya mengetahui masa lalu kita, menerima kita apa adanya. Tapi, apakah
ia akan menerima masa laluku? Aku terlalu takut.
“Kau
bisa mendapatkan seseorang yang lebih baik dariku,”ucapku akhirnya. Dia pantas
untuk mendapatkan seorang gadis yang tumbuh dengan lingkungan keluarga yang
normal.
“Aku
mencintaimu,” tegas lelaki itu. Laki-laki itu, Hanan, teman satu pekerjaan yang
enam bulan terakhir dekat denganku. Walaupun awalnya aku sering merasa
terganggu, tapi ia selalu menjejaliku dengan humornya yang akhirnya membuatku
tertawa juga. Hanan seperti buku yang terbuka, aku bisa mengenal semua sifatnya
dengan mudah.
Tapi datang ke rumahku
satu minggu yang lalu tanpa memberitahuku? Ralat, rumah orang tuaku maksudku.
Harusnya aku senang karena hal itu menunjukkan bahwa dia serius.
“Dengan
cara seperti ini, tanpa bilang padaku lebih dulu,” kataku cukup keras ketika
bertemu dengannya dua hari lalu. Aku sungguh tak siap memberitahunya tentang
masa laluku.
“Maaf,
apakah aku terlalu terburu-buru? Aku hanya…” Hanan tak meneruskan kata-katanya.
Mungkin dia terkejut dengan reaksiku. Kutatap matanya.
“Jangan
terlalu baik padaku.” Ya, lebih baik begitu.
“Tak
ada yang bisa melarangku Lili.”
“Sekalipun
itu aku?”
“Ya,
sekali pun itu kau,” tegasnya.
“Walaupun
kubilang kau tak akan pernah bisa menjadi cinta pertamaku.”
Ia
terdiam. Mungkin terkejut dengan apa yang kuucapkan.
“Ya,
sekalipun seperti itu. Tapi, aku yakin akan menjadi cinta terakhirmu.”
Aku
tahu persis, Hanan bukanlah orang yang mudah menyerah. Dia akan selalu
mengupayakan apa yag diinginkannya. Jika boleh jujur, aku bahagia saat bersama
dengannya. Tapi, ada rasa kesal yang sangat dalam hatiku. Dari dalam matanya
aku tahu ia mencintaiku, tapi yang kuragukan, apa benar aku pantas untuk bisa
mencintainya. Aku terlalu takut.
“Datanglah
sabtu sore nanti ke tempat kosku, aku akan memberitahumu tentang diriku yang
tak kau ketahui.”
###
Satu-satunya
orang yang paling dekat denganku hingga usiaku empat belas tahun adalah Bapak. Bapak
mengajariku dalam semua hal. Kecuali ketika aku datang bulan pertama kali,
Bulek Dar, tetangga rumah, ia mintai tolong untuk menjelaskan apa yang harus
kuperhatikan.
Aku tak pernah melihat
ibu, bahkan hanya dalam sebuah potret. Hanya dalam sebuah imajinasi saja ibu
ada. Imajinasi yang tumbuh dari cerita-cerita bapak.
“Ibumu,
wanita yang sangat cerdas.” Begitu cerita Bapak. Saat itu senja ketika aku
masih kelas tiga SD. Aku tak pernah menanyai Bapak soal ibu.
“Lalu,
di mana ibu sekarang Pak?” kuberanikan bertanya.
“Ibumu
sudah bahagia sekarang.” Aku bisa menangkap wajah sendu bapak. Kuputuskan tak
bertanya lagi. Buat apa? Toh Bapak ada di sampingku.
Bapak
selalu menyisir rambutku setiap pagi saat aku akan berangkat sekolah. Mengucir
kuda atau mengepang. Aku mengaduh beberapa kali ketika ada rambut ikalku yang
kusut tertarik jari-jari sisir. Pun ketika ikatannya terlalu kencang.
Lalu
Bapak akan terbahak dan berucap, “Mungkin Bapak harus membeli buku cara
menyisir dan mengikat rambut.”
Aku
ikut terbahak dan membiarkannya melakukan rutinitas sisir menyisir rambut tiap
pagi walaupun sebenarnya ketika sampai sekolah aku sering membuka ikatan
rambutku karena tak terlalu rapi.
Menghabiskan
waktu bersama Bapak adalah hal yang sangat menyenangkan. Kecuali untuk masakan.
Makanan hasil olahan tangan Bapak rasanya hanya berkisar masih bisa diterima
lidah dan tidak bisa diterima lidah. Kami akan tertawa sambil menghabiskan
makanan. Bapak selalu berjanji akan membeli buku resep masakan. Tapi ketika
kami sampai di toko buku, ia selalu lupa membelinya.
Mengenai
buku, Bapak selalu menghadiahiku buku. Kata Bapak dengan membaca buku aku bisa mengetahui
banyak hal. Tidak semua buku yang dibelinya adalah buku baru. Lebih sering dari
toko buku bekas yang ada di samping warung bakso di dekat alun-alun kabupaten.
Oh ya, mengenai bakso, itu adalah makanan spesial. Jika semua orang bisa
memakan bakso kapan saja, aku hanya memakan bakso di waktu-waktu spesial. Saat
ulang tahunku, hari terima rapor, dan saat lebaran datang. Ketika kutanya
kenapa, beberapa hal harus dinikmati saat-saat tertentu agar ia menjadi
istimewa, begitu jawabannya. Aku mengangguk setuju. Padahal sebenarnya aku tahu benar bahwa bakso yang Bapak sukai
hanya yang ada di dekat alun-alun kabupaten, sementara rumah kami jauh dari
alun-alun kabupaten.
Bapak
tak pernah memarahiku. Ia hanya akan diam ketika aku melakukan sesuatu yang
tidak sesuai kehendaknya. Aku pernah sengaja menaruh permen karet yang telah
kukunyah hampir setengah jam ke rambut temanku, Doni. Aku sebal, ia mengataiku
anak pungut. Hanya karena aku tak memiliki ibu.
Ibu
Doni marah. Rambut anaknya harus dibotaki karena permen karet itu tak mau
lepas. Dia datang pada bapak. Aku tak berani keluar kamar. Dan hanya mendengar
beberapa kata bahwa bapak tak becus mendidik anak.
Bapak
mendiamkanku. Bahkan ketika aku terus bertanya tentang kunang-kunang saat makan
malam.
“Lili
minta maaf,”kataku akhirnya. Aku tak berani menatap mata Bapak.
“Apakah
begitu lama hingga membuatmu sadar akan kesalahanmu?”
Aku
masih menunduk.
“Nduk, dengarkan Bapak. Apakah Bapak
pernah mengajarimu berbuat hal yang tidak baik pada temanmu?”
Aku
menggeleng.
“Lalu,
kenapa kau melakukannya. Jangan menunduk.”
“Karena
dia mengataiku anak pungut.” Kudapati wajah Bapak yang sedikit terkejut.
“Kau
anak Bapak,” tegasnya.
“Iya,
aku tahu.”
Esoknya,
semua berjalan seperti biasa. Bapak selalu menyeduh kopi hitam tiap jam lima
pagi. Sering aku mencicipinya dan bergidik ketika panas kopi hitam menyentuh
ujung lidahku.
“Kenapa
Bapak menyukai kopi, itu kan pahit.” Keluhku ketika rasa pahit masih menempel
di pangkal lidahku. Bapak tertawa keras.
“Loh,
hidup ini juga kadang pahit, tapi kita tetap bisa menikmatinya.”
Aku
hanya manyun mendengar jawaban Bapak.
Setelah agak besar aku
ikut menikmati kopi bersama Bapak. Kopi setiap jam lima pagi adalah waktu yang
istimewa. Aku akan menggoreng camilan seperti pisang goreng, singkong, atau
tempe sebagai teman ngopi.
“Kenapa kau sekarang
jadi suka ngopi?” tanya Bapak.
“Karena hidup tak
selalu manis,” jawabku sambil terkekeh.
Bapak tertawa, keras
sekali.
“Sejak kapan anak Bapak
jadi puitis begini,” ucap Bapak ketika tawanya reda.“Tapi benar, kalau ada
hal-hal pahit dalam hidup ini, kita hanya harus menikmatinya seperti saat kita
menikmati secangkir kopi.”
Kopi setiap jam lima
pagi. Bapak tak pernah melewatkannya. Hingga bau tubuhnya seperti wangi kopi.
Lalu
tiba-tiba semuanya berubah. Tak ada lagi Bapak. Buku. Surat. Sisir. Bakso. Dan
kopi. Kecelakaan telah merenggutnya. Bapak pergi. Walaupun aku terus menatap
Bapak di rumah sakit, dada Bapak tidak naik turun. Walaupun aku menangis
kencang sekali, Bapak tak juga membuka mata. Orang-orang menenangkanku, bilang
bahwa bapak sudah bahagia sekarang. Lalu, kenapa Bapak tega meninggalkanku
sendiri. Aku semakin tergugu.
Seminggu
setelah kepergian Bapak rasanya aku seperti orang gila. Dalam pandanganku Bapak
masih ada di rumah. Di dapur, ruang tengah, teras, aku melihat Bapak. Saat aku
mengusap mata untuk memastikan, bayangan Bapak hilang. Luntur bersama air
mataku yang jatuh satu-satu.
Lalu,
wanita itu muncul. Dengan sebuah mobil yang kutahu platnya berbeda kota dengan
tempatku tinggal.
“Siapa?”
“Dia,
ibumu.” Bulek Dar yang menjawab. Entah sejak kapan Bulek Dar ada di sampingku.
Ia yang selama ini selalu menemaniku di rumah setelah kepergian Bapak mengusap
pundakku. Aku sendiri, tak tahu harus berekspresi seperti apa. Kupikir dulu ibu
sudah meninggal, karena bapak selalu bilang bahwa ibu sudah bahagia sekarang.
Waktu itu, Lyra, teman sekelasku, menjelaskan padaku bahwa ‘sudah bahagia sekarang’
berarti sudah meninggal karena ayahnya Lyra juga sudah bahagia sekarang.
Mengingat itu membuatku menangis, lagi. Entah untuk kesekian kalinya minggu
ini. Jika meninggal berarti sudah bahagia maka aku ingin meninggal juga. Bapak
curang, merasakan bahagia tanpa
mengajakku. Bukankah katanya kita harus saling berbagi. Bahagia harus dibagi
bukan?
###
Rumah baru. Orang-orang
baru. Segalanya terasa asing. Aku harus
terbiasa tinggal dengan orang-orang asing yang harus kupanggil mama dan papa.
Juga seorang adik laki-laki yang umurnya hanya berjarak dua tahun lebih muda
dariku dan seorang adik kecil perempuan. Ya, kini aku tinggal dengan ibuku.
Tiga hari lalu, walaupun aku menangis meminta untuk tak meninggalkan rumah
Bapak, keluarga besarku dari Bapak sepakat untuk menyerahkanku pada Mama, ibu
kandungku. Usiaku masih empat belas yang berarti aku masih di bawah umur. Aku
tak bisa tinggal sendiri. Bahkan Bulek Dar, dia menggeleng saat aku merengek
untuk tetap tinggal.
“Ini
kamarmu, Lili” ucap Mama. Kalau Bapak sering memanggilku dengan sebutan “nduk” maka wanita yang harus kupanggil
mama memanggilku dengan nama. Sebuah ruangan yang cukup luas dengan dinding
berwarna biru menyambutku.
“Mama
akan menyiapkan makan malam.” Wanita yang berparas cantik dan harum itu
meninggalkan ruang. Wanita yang tiba-tiba harus kupanggil Mama sejak tiga hari lalu.
Kuletakkan
tas punggungku asal di atas tempat tidur. Lantas tanganku meraih jendela untuk
membukanya. Angin sore menyambutku. Banyak hal yang mampir di kepala.
Pukul
tujuh malam, pintu kamar diketuk. Aku hendak membukanya ketika kenop pintu
sudah diputar.
“Lili,
ayo, makan.” Mama mengenakan sebuah apron. Mungkin ia baru selesai masak.
Mungkin—karena aku tak mencium bau masakan dalam tubuhnya seperti bau tubuh
bapak yang bau asap dan masakan saat memanggilku makan. Mama tetap wangi.
Aku
mengikuti langkahnya menuju meja makan. Aku sering makan bersama bapak di depan
TV. Di sebuah tikar yang terbuat dari anyaman daun pandan. Tapi di sini kami
harus makan di meja makan. Tak ada yang bersuara. Hanya bunyi sendok dan garpu
yang berdenting dengan piring. Aku agak merasa aneh makan dengan garpu.
Biasanya aku hanya akan memakai sendok, bahkan aku dan Bapak lebih sering makan
langsung dengan tangan. Seringkali kami makan sambil menonton TV, lantas asyik
mengomentari tayangan TV.
Tapi
di rumah Mama, semuanya diam. Beberapa kali aku mencuri lihat wajah Papa.
Selama tiga hari terahir hanya Mama yang mengurusi kepindahanku. Malam ini baru
perama kali aku melihatnya. Juga, Rio, adik laki-lakiku, dan Ain, adik
perempuanku. Makan malam yang sangat canggung. Aku tak berniat memperkenalkan
diri. Apa aku harus bilang ‘Halo, aku Lili, anak yang ditinggalkan Mama, untuk
pergi bersama orang lain’. Ya, Mama pergi meninggalkanku dengan Bapak, begitu
pikirku ketika menerima kenyataan bahwa ibu kandungku masih hidup. Harusnya aku
senang, tapi kenapa aku merasa selalu sesak saat memikirkannya.
Mama
menangis malam itu. Aku mendengarnya waktu lewat kamar mama untuk ke kamar mandi.
Aku hanya diam. Tak tahu harus berbuat apa ketika Mama menangis. Bapak pernah
bilang, wanita itu mudah menangis. Tapi, aku tak tahu kenapa Mama menangis.
Apakah Mama menyesal membawaku kemari? Begitu pikirku ketika aku telah
berbaring di kasur baruku di kamar.
Hari-hari
selanjutnya, rasanya semua terasa berat. Tak ada bau kopi setiap jam lima pagi.
Aku tak banyak mengobrol. Bahkan, rasanya pembicaraanku hanya dengan Mama dan
berkisar dengan jawaban antara iya dan tidak. Semua orang memeperlakukanku dengan
baik. Minggu kedua, Papa beberapa kali mengajakku ngobrol. Menanyai hal-hal
biasa tentang bagaimana sekolah baruku, teman-temanku, dan apa saja yang kuinginkan.
Aku
sendiri tak tahu harus memperlakukan mereka seperti apa. Rasanya sangat melelahkan.
Bahkan ketika aku mendapati Mama, Papa, Rio, dan Ain sedang bercanda di teras
belakang rumah, aku hanya bisa menatapnya dari jauh. Apakah, jika dulu Mama tak
meninggalkanku dengan Bapak, aku akan merasakan hal seperti itu? Sepertinya di
rumah ini aku hanya akan menjadi orang asing. Lebih baik, aku kembali ke rumah
Bapak.
Bahkan
tanpa aku sadari, sikapku semakin lama menjadi ketus. Kadang sengaja aku pulang
terlambat, padahal tak ada kegiatan sepulang sekolah. Aku tak mengacuhkan Ain
saat ia mengajakku bermain. Aku membeli banyak hal yang sebenarnya tak
kubutuhkan dengan uang yang Papa berikan padaku, lantas aku meminta uang lagi.
Dia hanya akan menatapku tanpa berkata. Padahal uang saku yang diberikannya
cukup untuk sebulan.
“Lili,
Mama mau bicara.” Mama datang ke kamarku suatu malam. Malam ke tiga ratus empat
lima yang berarti aku hampir satu tahun tinggal di rumah itu. Aku menandai
kalender sejak pertama datang.
Aku yang sedang asyik
membaca komik hanya mengangguk tanpa berniat menatap wajahnya.
“Lili,
bisakah kita berbicara serius. Ada yang ingin Mama beritahukan padamu.”
Kututup
komik dan menatap Mama dengan ogah-ogahan.
“Sebenarnya,
Ayah kandungmu bukanlah Bapak, tapi Papa.” Ucap Mama pelan yang seperti
bisikan. Lantas, Mama mulai menangis.
Aku
bergeming. Bagaimana bisa, Bapak bukan ayah kandungku. Orang yang sangat aku
cintai. Aku ingin memprotes, tapi tak ada kata-kata yang keluar sedikitpun.
“Dulu,
Mama mengandungmu sebelum menikah. Karena Papa sedang belajar di luar kota,
Mama tak berani memberitahunya. Itu kesalahan Mama. Orang tua Mama menjodohkan
Mama dengan Bapak agar tak membuat keluarga malu. Mama tidak tahu kenapa Bapak
mau menerima Mama.”
“Jangan
bercanda!” Tanpa kusadari suaraku sangat keras.
“Maafkan
Mama, Lili.”
Air
mataku sudah siap buncah. Aku menahannya hingga membuat dadaku sesak.
“Kenapa
aku sama Bapak, bukan dengan Mama?” tanyaku akhirnya.
Mama
menghirup napas panjang sebelum akhirnya berkata, “Karena…agar Mama bisa pergi,
Mama harus meninggalkanmu. Papa akhirnya tahu dan ingin Mama pergi dengannya.”
Fakta
lain yang sangat mengejutkan.
“Mama,
ini sungguh tak lucu, kalau aku memang harus mencintai kalian sebagai orang
tuaku, tapi bukan dengan cara menjelekkan Bapak.”
Mama
hanya menangis. Aku baru menyadari ada seseorang lagi yang berdiri di pintu
kamarku ketika kudengar ada isakan yang sangat pelan. Papa.
“Lalu,
kenapa Mama tak memilih untuk tinggal?” Walaupun dalam hatiku aku tak percaya
Bapak setega itu memisahkanku dengan orang tua kandungku.
Mama
menatapku. Sebenarnya aku tahu jawabannya. Mama mencintai Papa. Walaupun Bapak
memperlakukannya dengan sangat baik, ternyata hal itu tak cukup untuk membuat
Mama mencintainya.
Aku
cukup dewasa untuk tahu hal itu tanpa harus mendengar jawaban Mama.
“Padahal
Bapak selalu mencintai Mama.”
Mama
semakin tersedu. Malam itu, Mama dan Papa meminta maaf padaku. Dulu, harusnya
Mama memberitahu Papa. Harusnya Papa lebih peduli dengan Mama. Harusnya
Bapak…Aku sungguh tak ingin membuat pemikiran tentang Bapak yang memisahkanku
dengan orang tua kandungku.
###
“Kau tahu, saat
akhirnya aku keluar dari rumah orang tuaku untuk melanjutkan kuliah di luar
kota, empat tahun setelah aku tinggal di rumah orang tuaku, tiga tahun setelah
pengakuan orang tuaku, aku melihat pendar yang berbeda di mata Mama. Mama
terlihat sangat lega. Aku sedih sekaligus juga lega. Sedih karena ternyata mama
seperti tak mengharap kehadiranku. Tapi sebenarnya Mama baik. Kurasa saat itu,
kami butuh waktu. Empat tahun ternyata bukan waktu yang cukup. Tapi, aku lega.
Aku tak menjadi satu-satunya orang yang jahat karena tak bisa merasa benar-benar
nyaman di dekatnya. Mungkin seperti ini akan menjadi lebih baik. Dari awal,
tanpa kusadari aku selalu mencari alasan. Aku selalu membandingkannya dengan
Bapak. Bahkan ketika aku tahu Bapak lah yang memisahkan kami.”
Aku menghirup napas
panjang. Memasukkan banyak udara ke rongga dada yang rasanya sangat sesak sejak
satu jam lalu.
“Bagi seorang anak
perempuan, Bapak adalah cinta pertama. Dan aku tahu, aku sudah kehilangan cinta
pertamaku sejak lama. Bahkan kehilangan itu kadang membuatku takut untuk
mencintai seseorang. Jika kehilangan sesakit ini, bukankah leih baik aku tak
mencintai agar tak ada rasa kehilangan saat ia pergi. Aku tak seperti
kebanyakan orang mungkin. Aku mencintai orang yang memisahkanku dengan orang
tua kandungku dan sampai saat ini bahkan aku belum terlalu bisa mencintai orang
tua kandungku. Bagiku, orang tua itu adalah Bapak, orang yang mungkin harusnya
kubenci.”
“Kau akan tetap
mencintaiku?” Kutatap mata Hanan.
Lama dia hanya
menatapku sebelum akhirnya mengangguk. Mengambil secangkir kopi yang telah
dingin karena terlalu lama dibiarkan dan menyesapnya.
“Bagaimana jika aku
seperti Mama? Meninggalkanmu saat aku menemukan yang lain?”
“Aku akan membuatmu
jatuh cinta setiap hari, hingga tak ada celah bagi orang lain.”
Lantas Hanan menatapku
serius.
“Lili, aku menerimamu
apa adanya. Tak ada kehidupan yang sempurna di dunia ini. Dan ingat, semua
orang berhak untuk mencintai. Kau tak harus memikirkan tentang kehilangan. Jika
pun kehilangan itu pahit, bukankah orang yang meminum kopi akan meminumnya lagi
dan lagi. Setelah rasa pahit, kau bisa lebih menikmati rasa manis. Setelah
kehilangan, kau bisa belajar untuk memperlakukan orang-orang di sekitarmu
dengan lebih baik saat mereka ada.”
Aku tersenyum. Kenapa
aku merasa seperti mengobrol dengan Bapak.
“Aku tak bisa
menjanjikanmu bahwa nanti kehidupan kita selalu penuh dengan hal manis. Jika
ada hal pahit dalam kehidupan kita nantinya, mari kita menikmatinya seperti
secangkir kopi hangat yang akan kita nikmati setiap jam lima pagi.”
Aku mengangguk.
Catatan:
Petricor: salah satu
bau alami yang tercium saat hujan turun membasahi tanah yang kering
Nduk: panggilan untuk
anak perempuan dalam Bahasa Jawa
Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen #MyCupOfStory Diselenggarakan oleh GIORDANO dan Nulisbuku.com
semoga menang yaaa riiin.. cantik deh ceritanya
BalasHapusAamiin...makasih sudah baca put,
BalasHapus