Lagi-lagi, dalam malam yang terlalu bisu, hal ini melintas.
Sesuatu yang beberapa hari ini terpikir ketika saya membaca sebuah bacaan di
basabasi.co, mengenai rezeki yang tak kasat mata. Suatu hal yang kadang
terlewat untuk saya syukuri. Ya, persahabatan. Perkoncoan. Rencang. Rezeki tak kasatmata yang kadang terlewat.
Mendapati orang-orang yang peduli pada kita tentunya sebuah
kebahagian. Keluarga, tentu saja. Tapi
dalam konteks ini, keluarga tidak termasuk. Karena secara otomatis keluarga
selalu menjadi orang yang peduli dan kita pedulikan.
Sahabat, teman, konco, rencang, apapun sebutannya, tak
masalah. Mereka orang yang sebenarnya asing tapi perlahan menjadi orang yang
kita kenal. Lebih dari itu, orang yang kita anggap penting. Orang yang peduli
dan kita pedulikan.
Di luar sana, banyak pertemanan yang jika ditelisik lebih
dalam hanya mengatasnamakan uang, kekuasaan, jabatan. Ada gula ada semut. Habis manis sepah
dibuang. Setelah mendapat apa yang diinginkan mereka pergi. Tak peduli lagi
padamu. Tak peduli padamu yang dulu pernah meminjamimu uang, lantas ketika kau
terpuruk mereka seolah tak kenal. Tak peduli padamu yang pernah membantunya dan
ketika kau butuh bantuan mereka memalingkan muka. Tak mengherankan memang
ketika kau sedang berdiri di puncak, banyak “teman” yang mengelilingimu.
Lantas, mereka langsung putar badan menjauh ketika kau jatuh.
Ah, jadi ingat sebuah buku dengan judul “Andai aku jalan
kaki, masihkah engkau selalu ada untukku?”. Ya, andai aku saat ini hanya
pejalan kaki yang mencari remah-remah semangat, masih adakah kalian untukku? Maka,
sahabat yang selalu ada untuk kita di saat kondisi apapun adalah sebuah rezeki
yang patut kita syukuri.
Bagiku sendiri sahabat adalah mereka yang dengannya aku bisa
membicarakan banyak hal, entah itu penting mengenai cita-cita atau sekadar
cerita tentang apa yang dimimpikan tadi malam. Yang tak peduli ketika kami
berkumpul, hanyalah sekumpulan bocah dengan kekurangan masing-masinng. Tidak
ada anggapan bahwa salah satu dari kami melebihi yang lain. Kami, hanyalah
orang-orang dengan pribadi masing-masing.
Biar kuceritakan padamu. Ada sekumpulan bocah yang berkumpul
dengan kekurangannya masing-masing. Ada yang gak kuat tidur malam, agak telmi
tapi pinter, banyak makan dan super rajin, narsis dan centil, banyak kentut
tapi kadang dewasa (kadang banget), tapi sekumpulan bocah itu tetap baik-baik
saja. Jarang sekali kesamaan yang mereka miliki, kecuali gender mereka
sama-sama perempuan. Ketika nonton sebuah film, ada yang sering nolak, ketiduran,
komen soal ganteng nya si aktor, atau merhatiin betul alur cerita. Tapi, toh
mereka baik-baik saja. Berkumpul dengan seseorang yang memiliki passion yang
sama sangat menyenangkan. Tapi, berkumpul dengan pribadi yang berbeda bukankah menjadi penyeimbang. Bahwa ada banyak sekali karakter manusia di dunia ini,
bahwa menghargai pribadi seseorang itu penting.
Dan aku bersyukur, kumpulan bocah itu bisa memahami setiap karakter.
Pada akhirnya, semua akan berjalan di jalannya
masing-masing. Ya, pada akhirnya sekumpulan bocah itu meniti jalannya
masing-masing. Dengan kebas sayap yang mereka miliki, dengan mimpi yang telah
mereka rajut. Kawan, seperti apapun kita nanti, dimana pun kita berada nanti,
semoga Allah selalu bersama kita.
Dan ini hanyalah pengingat, satu pengingat kecil dariku di
antara kenangan kita yang bertebar, bahwa aku bersyukur menjadi salah satu
bagian ingatan jika kalian mendengar kata “persahabatan”. Terima kasih untuk menjadi sekumpulan bocah
yang tak selalu memuji, tetapi menjadi pengingat ketika ada kesalahan. Untuk tidak
membiarkan sebuah kekeliruan semakin berlarut.
Jangan pernah sungkan, ketika ada kesenangan maupun
kesusahan untuk saling berbagi. Walaupun, kita sudah sibuk dengan kehidupan
masing-masing, semoga kita selalu bisa berbagi kabar, berbagi cerita. Yah,
meskipun ketika kita berkumpul, entah hanya via suara, berapapun umur kita, apapun status kita,
rasanya tetap saja kita hanya sekumpulan bocah.
Semoga, Allah selalu menyertai kita.
Salam bocah
"narsis dan centil" itu sepertinya bukan aku rin :v
BalasHapusternyata ada yang menyadari karakternya :D
Hapus