Jumat, 11 Desember 2015

Persahabatan: Sebuah rezeki

Lagi-lagi, dalam malam yang terlalu bisu, hal ini melintas. Sesuatu yang beberapa hari ini terpikir ketika saya membaca sebuah bacaan di basabasi.co, mengenai rezeki yang tak kasat mata. Suatu hal yang kadang terlewat untuk saya syukuri. Ya, persahabatan. Perkoncoan. Rencang. Rezeki tak kasatmata yang kadang terlewat.

Mendapati orang-orang yang peduli pada kita tentunya sebuah kebahagian.  Keluarga, tentu saja. Tapi dalam konteks ini, keluarga tidak termasuk. Karena secara otomatis keluarga selalu menjadi orang yang peduli dan kita pedulikan.

Sahabat, teman, konco, rencang, apapun sebutannya, tak masalah. Mereka orang yang sebenarnya asing tapi perlahan menjadi orang yang kita kenal. Lebih dari itu, orang yang kita anggap penting. Orang yang peduli dan kita pedulikan.

Di luar sana, banyak pertemanan yang jika ditelisik lebih dalam hanya mengatasnamakan uang, kekuasaan, jabatan.  Ada gula ada semut. Habis manis sepah dibuang. Setelah mendapat apa yang diinginkan mereka pergi. Tak peduli lagi padamu. Tak peduli padamu yang dulu pernah meminjamimu uang, lantas ketika kau terpuruk mereka seolah tak kenal. Tak peduli padamu yang pernah membantunya dan ketika kau butuh bantuan mereka memalingkan muka. Tak mengherankan memang ketika kau sedang berdiri di puncak, banyak “teman” yang mengelilingimu. Lantas, mereka langsung putar badan menjauh ketika kau jatuh.

Ah, jadi ingat sebuah buku dengan judul “Andai aku jalan kaki, masihkah engkau selalu ada untukku?”. Ya, andai aku saat ini hanya pejalan kaki yang mencari remah-remah semangat, masih adakah kalian untukku? Maka, sahabat yang selalu ada untuk kita di saat kondisi apapun adalah sebuah rezeki yang patut kita syukuri.

Bagiku sendiri sahabat adalah mereka yang dengannya aku bisa membicarakan banyak hal, entah itu penting mengenai cita-cita atau sekadar cerita tentang apa yang dimimpikan tadi malam. Yang tak peduli ketika kami berkumpul, hanyalah sekumpulan bocah dengan kekurangan masing-masinng. Tidak ada anggapan bahwa salah satu dari kami melebihi yang lain. Kami, hanyalah orang-orang dengan pribadi masing-masing.

Biar kuceritakan padamu. Ada sekumpulan bocah yang berkumpul dengan kekurangannya masing-masing. Ada yang gak kuat tidur malam, agak telmi tapi pinter, banyak makan dan super rajin, narsis dan centil, banyak kentut tapi kadang dewasa (kadang banget), tapi sekumpulan bocah itu tetap baik-baik saja. Jarang sekali kesamaan yang mereka miliki, kecuali gender mereka sama-sama perempuan. Ketika nonton sebuah film, ada yang sering nolak, ketiduran, komen soal ganteng nya si aktor, atau merhatiin betul alur cerita. Tapi, toh mereka baik-baik saja. Berkumpul dengan seseorang yang memiliki passion yang sama sangat menyenangkan. Tapi, berkumpul dengan pribadi yang berbeda bukankah menjadi penyeimbang. Bahwa ada banyak sekali karakter manusia di dunia ini, bahwa menghargai pribadi seseorang itu penting.

Dan aku bersyukur, kumpulan bocah itu bisa memahami setiap karakter.
Pada akhirnya, semua akan berjalan di jalannya masing-masing. Ya, pada akhirnya sekumpulan bocah itu meniti jalannya masing-masing. Dengan kebas sayap yang mereka miliki, dengan mimpi yang telah mereka rajut. Kawan, seperti apapun kita nanti, dimana pun kita berada nanti, semoga Allah selalu bersama kita.

Dan ini hanyalah pengingat, satu pengingat kecil dariku di antara kenangan kita yang bertebar, bahwa aku bersyukur menjadi salah satu bagian ingatan jika kalian mendengar kata “persahabatan”.  Terima kasih untuk menjadi sekumpulan bocah yang tak selalu memuji, tetapi menjadi pengingat ketika ada kesalahan. Untuk tidak membiarkan sebuah kekeliruan semakin berlarut.

Jangan pernah sungkan, ketika ada kesenangan maupun kesusahan untuk saling berbagi. Walaupun, kita sudah sibuk dengan kehidupan masing-masing, semoga kita selalu bisa berbagi kabar, berbagi cerita. Yah, meskipun ketika kita berkumpul, entah hanya via suara,  berapapun umur kita, apapun status kita, rasanya tetap saja kita hanya sekumpulan bocah.

Semoga, Allah selalu menyertai kita.
Salam bocah

2 komentar: