Senin, 13 Agustus 2018

KELUARGA MASA KINI



Anak-anak akan terus bergerak maju. Mereka akan tumbuh di jaman yang berbeda dengan jaman orang tuanya saat masih menjadi anak-anak.

Keluarga merupakan lembaga pendidikan yang pertama bagi anak-anak dan orang tua adalah pendidik utama. Menjadi orang tua adalah sebuah tanggung jawab yang besar. Seseorang baru akan menjadi orang tua ketika mereka memiliki anak, baik anak kandung maupun anak angkat. Setiap orang tua siap atau tidak siap berkewajiban mendidik anak-anaknya sejak dalam kandungan hingga anak menyelesaikan pendidikannya.
Peran orang tua dalam sebuah keluarga menjadi sangat penting. Mengikuti seminar parenting  yang mulai banyak dilakukan di masyarakat menjadi kegiatan yag bermanfaat selain membaca buku tentang cara mengasuh anak. Berbeda dengan tenaga kependidikan yang mendapatkan pelatihan khusus, para orang tua harus aktif mencari sendiri ilmu tentang mengasuh anak. Dalam 1000 hari pertama kehidupan anak, pengaruh pola asuh (parenting) orang tua sangat berpengaruh dalam perkembangan otak anak.
Tingkat pendidikan orang tua juga cukup banyak mempengaruhi bagaimana seseorang mendidik anaknya. Berdasarkan Badan Pusat Statistik, data menunjukkan bahwa rata-rata lama sekolah baik perempuan maupun laki-laki pada tahun 2017 adalah 8,1 tahun, atau setara kelas 2 sampai dengan 3 SMP, artinya masih banyak orang tua atau calon orang tua yang belum memiliki pendidikan cukup untuk menjadi orang tua yang memadai dalam mendidik anak-anaknya.
Memiliki anak butuh sebuah kesiapan, bukan hanya kesiapan fisik akan tetapi juga kesiapan mental. Anak lahir karena sebuah rasa kasih sayang, maka membesarkannya juga dibutuhkan sebuah kasih sayang. Oleh karenanya, saat memutuskan untuk memiliki anak, alangkah baiknya juga belajar bagaimana cara mengasuh anak yang baik.
Buah jatuh tak jauh dari pohonnya
Seorang ibu, adalah manusia pertama yang dilihat seorang anak ketika ia dilahirkan ke dunia. Berjalannya waktu, interaksi antara anak dan orang tua akan semakin banyak. Orang tua akan menjadi role model  bagi anak. Terlebih ketika anak sedang dalam fase golden age, dimana anak-anak menjadi peniru yang paling mahir. Meniru apa yang dilakukan, apa yang dikatakan, apa yang dikenakan, akan sangat menarik bagi anak-anak untuk dicontoh.
Istilah buah jatuh tak jauh dari pohonnya, menurut ahli bahasa berarti perilaku anak tidak jauh berbeda dari perilaku orang tua. Hal ini sering luput dari perhatian orang tua mengenai makna sebenarnya. Perilaku anak akan menjadi cerminan perilaku orang tua. Jika perilaku anak kurang baik atau tidak sesuai dengan norma yang ada, orang tua wajib melakukan instropeksi diri. Apa yang telah ia contohkan kepada anak sehingga anak melakukan perbuatan yang kurang terpuji.
Jika di dalam keluarga perilaku yang dicontohkan orang tua adalah positif maka perilaku anak akan positif. Sebuah kebiasaan yang diajarkan kepada anak secara terus-menerus akan menjadi karakter. Seperti kebiasaan makan harus tertib, duduk, makan dengan tangan kanan, membaca doa sebelum makan, menaruh barang-barang ditempatnya setelah digunakan. Maka anak akan melakukan hal yang sama, baik di dalam rumah maupun saat ia berada di luar rumah.
Memperbanyak waktu berinteraksi
Anak akan terbuka pada orang tuanya apabila hubungan mereka dekat. Tak ada sekat  yang menghalangi untuk menceritakan apapun kepada orang tuanya bagaikan seorang teman. Orang tuaku adalah temanku. Hal ini tentu saja dengan batasan anak tetap menghormati orang tua. Waktu berinteraksi dengan anak menjadi hal yang krusial. Hal ini menjadi sebuah permasalahan  tersendiri bagi orang tua yang keduanya bekerja. Tapi bukan berarti mereka tak bisa mengoptimalkan waktu. Memberlakukan waktu di tempat kerja adalah untuk bekerja dan di rumah adalah waktunya bersama keluarga menjadi solusi yang bisa dilakukan.
Kemajuan teknologi, juga menjadi tantangan tersendiri. Anak-anak banyak diberikan gawai untuk bermain agar tidak menganggu orang tuanya atau tidak membuat rumah berantakan. Padahal, anak-anak memang seharusnya beraktifitas demi tumbuh kembang mereka. Pemberian gawai akan membuat anak menjadi anti sosial dan tidak bisa mengendalikan diri.
Pada musim libur lebaran tahun lalu, bahkan salah seorang keponakan saya yang usianya belum sampai tiga tahun sangat diam dengan gawai di tangan. Dia akan membanting gawainya ketika baterai habis dan masih ingin bermain. Menangis meronta jika keinginannya tidak dipenuhi. Jika sudah seperti ini, siapa yang mau disalahkan.
Anak-anak akan mengikuti contoh yang diberikan orang tuanya. Jika anak tidak dibolehkan memegang gawai, maka letakkan gawai saat sedang di rumah. Tetapkan aturan bukan hanya pada anak, tetapi juga diri sendiri. Mengecek gawai untuk tahu apa ada berita penting bisa dilakukan saat anak sudah tertidur.
Menemani anak bermain, membacakan dongeng, bahkan memasak bersama menjadi kegiatan yang menarik sekaligus mengajarkan kebersamaan. Anak akan merasa diperhatikan oleh orang tuanya. Juga saat akhir pekan, piknik sederhana di taman menjadi salah satu pilihan.
Memberikan kesempatan bagi sang anak untuk merencanakan kegiatan di akhir pekan juga akan mengajarkan anak untuk berpikir dan menyampaikan pendapat. Sering berdiskusi tentang hal-hal kecil seperti menu makanan yang akan dimasak, tanaman apa yang akan ditanam di halaman, juga rencana kegiatan di akhir pekan, akan mengajarkan anak untuk berpikir dan menyampaikan pendapat. Hal ini akan membuat mereka lebih terbuka dan menerima masukan orang lain, sehingga dalam kehidupan sosial nantinya ia mampu menghargai pendapat orang lain.
Hukuman dan hadiah
Secara fitrah, tak ada orang tua yang akan tega menghukum anaknya. Tapi, pemberian hukuman dan hadiah kepada anak akan turut membantu dalam membentuk kepribadian anak. Hukuman bukan berarti memukul dan menyakiti. Sebuah bentakan juga akan melukai hati anak. Cukuplah berkata dengan nada biasa tapi tegas, pertanda bahwa kita sedang tidak bercanda. Sebuah hukuman bisa seperti duduk diam menghadap tembok selama lima sampai lima belas menit. Bagi anak kecil yang aktif untuk bergerak, hal ini sudah cukup menyiksa.
Setelah hukuman selesai orang tua juga harus memberikan penjelasan apa kesalahan anak, bagaimana seharusnya anak bersikap, dan tak lupa memeluknya. Pelukan merupakan kontak fisik secara langsung yang akan diserap oleh sang anak bahwa orang tuanya menyayanginya. Pemahaman-pemahaman akan suatu perbuatan yang disampaikan secara baik akan mudah diserap oleh anak.
Sebuah hukuman juga diberlakukan secara konsisten, baik saat anak melakukan kesalahan di dalam dan di luar lingkungan rumah. Pemberian hukuman bisa dilakukan di tempat yang sepi, misalkan sedang berada di rumah saudara, bisa pinjam salah satu kamar sehingga orang lain tidak melihatnya. Pemberian hukuman dihadapan orang lain akan membuat anak malu dan melukai harga dirinya. Anak tetap disuruh untuk diam selama lima sampai lima belas menit menghadap tembok. Hal ini mengajarkan kepada anak bahwa ia harus memperhatikan tingkah lakunya dimanapun ia berada.
Hadiah diberikan saat anak melakukan suatu perbuatan terpuji. Hadiah tak melulu harus berupa barang, bisa ajakan makan di luar, jalan-jalan, bahkan memasakkan makanan kesukaan sang anak.
Keluarga masa kini
Keluarga yang baik bukanlah keluarga yang membebaskan anaknya untuk mendapatkan akses segala informasi baik secara langsung maupun digital tanpa bekal. Semua perangkat kemajuan teknologi harus disikapi dengan bijak oleh orang tua, yaitu dengan menerapkan norma dan aturan di dalam pendidikan keluarga.
Pada akhirnya, keluarga menjadi pondasi dasar bagi sang anak. Anak-anak dengan pendidikan yang bagus di keluarganya tidak akan udah terpengaruh oleh lingkungan apabila lingkungan memberikan suatu pengaruh yang buruk. Hal-hal yang diajarkan oleh orng tua di dalam keluarga akan menjadi penentu bagaimana anak bersikap di lingkungan nantinya.
Menjadi orang tua tidak semudah membalikkan telapak tangan, tidak ada sekolah yang mengajarkan dan memberikan gelar ayah dan ibu. Menjadi orang tua berarti belajar seumur hidup untuk memberikan contoh yang baik bagi anak-anaknya.
Sunderland (2006:12) menyatakan bahwa, “Parent are not magicians. They can’t guarantee their children happines in later life or protect them from loss and rejection. But they can dramatically influence system in their childres’s brain.”
Orang tua tidak bisa menemani anaknya menjalani kehidupan selamanya, tapi ialah yang memberikan andil besar bagaimana anaknya menjalani kehidupan. Sehingga pada akhirnya, pohon yang baik akan menghasilkan buah baik yang baik pula.

Dokumentasi pribadi

 #sahabatkeluarga

Tidak ada komentar:

Posting Komentar