Anak-anak akan terus
bergerak maju. Mereka akan tumbuh di jaman yang berbeda dengan jaman orang
tuanya saat masih menjadi anak-anak.
Keluarga merupakan
lembaga pendidikan yang pertama bagi anak-anak dan orang tua adalah pendidik
utama. Menjadi orang tua adalah sebuah tanggung jawab yang besar. Seseorang
baru akan menjadi orang tua ketika mereka memiliki anak, baik anak kandung
maupun anak angkat. Setiap orang tua siap atau tidak siap berkewajiban mendidik
anak-anaknya sejak dalam kandungan hingga anak menyelesaikan pendidikannya.
Peran orang tua dalam
sebuah keluarga menjadi sangat penting. Mengikuti seminar parenting yang mulai banyak
dilakukan di masyarakat menjadi kegiatan yag bermanfaat selain membaca buku
tentang cara mengasuh anak. Berbeda dengan tenaga kependidikan yang mendapatkan
pelatihan khusus, para orang tua harus aktif mencari sendiri ilmu tentang
mengasuh anak. Dalam 1000 hari pertama kehidupan anak, pengaruh pola asuh (parenting) orang tua sangat berpengaruh dalam perkembangan
otak anak.
Tingkat pendidikan
orang tua juga cukup banyak mempengaruhi bagaimana seseorang mendidik anaknya. Berdasarkan
Badan Pusat Statistik, data menunjukkan bahwa rata-rata lama sekolah baik
perempuan maupun laki-laki pada tahun 2017 adalah 8,1 tahun, atau setara kelas 2
sampai dengan 3 SMP, artinya masih banyak orang tua atau calon orang tua yang
belum memiliki pendidikan cukup untuk menjadi orang tua yang memadai dalam
mendidik anak-anaknya.
Memiliki anak butuh
sebuah kesiapan, bukan hanya kesiapan fisik akan tetapi juga kesiapan mental. Anak lahir karena sebuah rasa kasih sayang, maka membesarkannya juga dibutuhkan sebuah kasih sayang. Oleh
karenanya, saat memutuskan untuk memiliki anak, alangkah baiknya juga belajar
bagaimana cara mengasuh anak yang baik.
Buah jatuh tak jauh dari pohonnya
Seorang ibu, adalah
manusia pertama yang dilihat seorang anak ketika ia dilahirkan ke dunia.
Berjalannya waktu, interaksi antara anak dan orang tua akan semakin banyak.
Orang tua akan menjadi role model bagi anak. Terlebih ketika anak sedang dalam
fase golden age, dimana anak-anak
menjadi peniru yang paling mahir. Meniru apa yang dilakukan, apa yang
dikatakan, apa yang dikenakan, akan sangat menarik bagi anak-anak untuk
dicontoh.
Istilah buah jatuh tak
jauh dari pohonnya, menurut ahli bahasa berarti perilaku anak tidak jauh
berbeda dari perilaku orang tua. Hal ini sering luput dari perhatian orang tua
mengenai makna sebenarnya. Perilaku anak akan menjadi cerminan perilaku orang
tua. Jika perilaku anak kurang baik atau tidak sesuai dengan norma yang ada,
orang tua wajib melakukan instropeksi diri. Apa yang telah ia contohkan kepada
anak sehingga anak melakukan perbuatan yang kurang terpuji.
Jika di dalam keluarga
perilaku yang dicontohkan orang tua adalah positif maka perilaku anak akan
positif. Sebuah kebiasaan yang diajarkan kepada anak secara terus-menerus akan
menjadi karakter. Seperti kebiasaan makan harus tertib, duduk, makan dengan
tangan kanan, membaca doa sebelum makan, menaruh barang-barang ditempatnya
setelah digunakan. Maka anak akan melakukan hal yang sama, baik di dalam rumah
maupun saat ia berada di luar rumah.
Memperbanyak waktu berinteraksi
Anak akan terbuka pada
orang tuanya apabila hubungan mereka dekat. Tak ada sekat yang menghalangi untuk menceritakan apapun
kepada orang tuanya bagaikan seorang teman. Orang tuaku adalah temanku. Hal ini
tentu saja dengan batasan anak tetap menghormati orang tua. Waktu berinteraksi
dengan anak menjadi hal yang krusial. Hal ini menjadi sebuah permasalahan tersendiri bagi orang tua yang keduanya
bekerja. Tapi bukan berarti mereka tak bisa mengoptimalkan waktu. Memberlakukan
waktu di tempat kerja adalah untuk bekerja dan di rumah adalah waktunya bersama
keluarga menjadi solusi yang bisa dilakukan.
Kemajuan teknologi,
juga menjadi tantangan tersendiri. Anak-anak banyak diberikan gawai untuk
bermain agar tidak menganggu orang tuanya atau tidak membuat rumah berantakan.
Padahal, anak-anak memang seharusnya beraktifitas demi tumbuh kembang mereka.
Pemberian gawai akan membuat anak menjadi anti sosial dan tidak bisa
mengendalikan diri.
Pada musim libur
lebaran tahun lalu, bahkan salah seorang keponakan saya yang usianya belum
sampai tiga tahun sangat diam dengan gawai di tangan. Dia akan membanting
gawainya ketika baterai habis dan masih ingin bermain. Menangis meronta jika
keinginannya tidak dipenuhi. Jika sudah seperti ini, siapa yang mau disalahkan.
Anak-anak akan
mengikuti contoh yang diberikan orang tuanya. Jika anak tidak dibolehkan
memegang gawai, maka letakkan gawai saat sedang di rumah. Tetapkan aturan bukan
hanya pada anak, tetapi juga diri sendiri. Mengecek gawai untuk tahu apa ada
berita penting bisa dilakukan saat anak sudah tertidur.
Menemani anak bermain,
membacakan dongeng, bahkan memasak bersama menjadi kegiatan yang menarik
sekaligus mengajarkan kebersamaan. Anak akan merasa diperhatikan oleh orang
tuanya. Juga saat akhir pekan, piknik sederhana di taman menjadi salah satu
pilihan.
Memberikan kesempatan
bagi sang anak untuk merencanakan kegiatan di akhir pekan juga akan mengajarkan
anak untuk berpikir dan menyampaikan pendapat. Sering berdiskusi tentang
hal-hal kecil seperti menu makanan yang akan dimasak, tanaman apa yang akan
ditanam di halaman, juga rencana kegiatan di akhir pekan, akan mengajarkan anak
untuk berpikir dan menyampaikan pendapat. Hal ini akan membuat mereka lebih
terbuka dan menerima masukan orang lain, sehingga dalam kehidupan sosial
nantinya ia mampu menghargai pendapat orang lain.
Hukuman dan hadiah
Secara fitrah, tak ada
orang tua yang akan tega menghukum anaknya. Tapi, pemberian hukuman dan hadiah
kepada anak akan turut membantu dalam membentuk kepribadian anak. Hukuman bukan
berarti memukul dan menyakiti. Sebuah bentakan juga akan melukai hati anak.
Cukuplah berkata dengan nada biasa tapi tegas, pertanda bahwa kita sedang tidak
bercanda. Sebuah hukuman bisa seperti duduk diam menghadap tembok selama lima
sampai lima belas menit. Bagi anak kecil yang aktif untuk bergerak, hal ini
sudah cukup menyiksa.
Setelah hukuman selesai
orang tua juga harus memberikan penjelasan apa kesalahan anak, bagaimana
seharusnya anak bersikap, dan tak lupa memeluknya. Pelukan merupakan kontak
fisik secara langsung yang akan diserap oleh sang anak bahwa orang tuanya
menyayanginya. Pemahaman-pemahaman akan suatu perbuatan yang disampaikan secara
baik akan mudah diserap oleh anak.
Sebuah hukuman juga
diberlakukan secara konsisten, baik saat anak melakukan kesalahan di dalam dan
di luar lingkungan rumah. Pemberian hukuman bisa dilakukan di tempat yang sepi,
misalkan sedang berada di rumah saudara, bisa pinjam salah satu kamar sehingga
orang lain tidak melihatnya. Pemberian hukuman dihadapan orang lain akan
membuat anak malu dan melukai harga dirinya. Anak tetap disuruh untuk diam
selama lima sampai lima belas menit menghadap tembok. Hal ini mengajarkan
kepada anak bahwa ia harus memperhatikan tingkah lakunya dimanapun ia berada.
Hadiah diberikan saat
anak melakukan suatu perbuatan terpuji. Hadiah tak melulu harus berupa barang,
bisa ajakan makan di luar, jalan-jalan, bahkan memasakkan makanan kesukaan sang
anak.
Keluarga masa kini
Keluarga yang baik
bukanlah keluarga yang membebaskan anaknya untuk mendapatkan akses segala
informasi baik secara langsung maupun digital tanpa bekal. Semua perangkat
kemajuan teknologi harus disikapi dengan bijak oleh orang tua, yaitu dengan
menerapkan norma dan aturan di dalam pendidikan keluarga.
Pada akhirnya, keluarga
menjadi pondasi dasar bagi sang anak. Anak-anak dengan pendidikan yang bagus di
keluarganya tidak akan udah terpengaruh oleh lingkungan apabila lingkungan
memberikan suatu pengaruh yang buruk. Hal-hal yang diajarkan oleh orng tua di dalam keluarga akan menjadi
penentu bagaimana anak bersikap di lingkungan nantinya.
Menjadi orang tua
tidak semudah membalikkan telapak tangan, tidak ada sekolah yang mengajarkan
dan memberikan gelar ayah dan ibu. Menjadi orang tua berarti belajar seumur
hidup untuk memberikan contoh yang baik bagi anak-anaknya.
Sunderland (2006:12)
menyatakan bahwa, “Parent are not
magicians. They can’t guarantee their children happines in later life or
protect them from loss and rejection. But they can dramatically influence
system in their childres’s brain.”
Orang tua tidak bisa
menemani anaknya menjalani kehidupan selamanya, tapi ialah yang memberikan
andil besar bagaimana anaknya menjalani kehidupan. Sehingga pada akhirnya,
pohon yang baik akan menghasilkan buah baik yang baik pula.
![]() |
| Dokumentasi pribadi |

Tidak ada komentar:
Posting Komentar