Sabtu, 28 Juni 2014

Mendengar tapi tidak mendengar

Ini bukan hanya tentang bagaimana kau mendengar,
Atau kau hanya bilang,
“Ya, aku mendengar.”
Nyatanya kau mendengar tapi kau tidak mendengar.
Tapi di sela-sela ucapaanmu kau mengucapkan “apa” atau “kenapa” dan parahnya kau hanya berucap “hm”. Dan ketika kau mendengarnya kau tidak melihat dengan seseorang yang sedang mengobrol denganmu, kau hanya bermain dengan benda yang bernama gadget. Aku pikir jika kau seperti itu aku bisa mengatakan bahwa “kau mendengar tapi kau tidak benar-benar mendengar.”
Gadget? Aku pikir itu benda yang penting. Tapi kau harus tau kapan saat menggunakannya dan kapan kau tidak menggunakannya. Gadget, seperti ungkapan kadang ”mendekatkan yang jauh, menjauhkan yang dekat”. Padahal, ingat, orang yang langsung bisa membantumu ketika kau ada kesulitan bukankah orang-orang yang ada di dekatmu. Maka, pandai-pandailah menggunakan alat yang satu itu.
Aku bisa tahan dengan orang yang mengobrol tapi tangannya terus sibuk memencet tombol-tombol gadget, tapi maaf daya tahanku hanya untuk beberapa menit selebihnya silahkan mengobrol dengan gadget mu dan jangan salahkan aku jika suatu kali aku tak lagi ngeh untuk mengobrol denganmu, karena hal itu sangat menjengahkan. Sama seperti ketika aku mengobrol dengan orang songong, aku bisa tahan untuk beberapa menit, tapi maaf setelahnya aku lebih memilih untuk mengobrol dengan yang lain. Mentok aku akan membaca atau mengerjakan suatu hal yang lebih bermanfaat.
Mendengar ini bukan hanya tentang membuka telingamu saja. Ada etikanya, setidaknya menurutku. Bukan hanya buka telingamu, tapi juga perhatikan orang yang sedang kau dengar, beri reaksi, beri tanggapan, beri masukan, maka dengan begitu kau benar-benar mendengarnya.
Apa yang kau lakukan, seringnya itulah yang akan kau dapatkan.
Kau respect dengan orang lain, kemungkinan besar orang lain respect denganmu.
Kau mendengar orang lain, kemungkinan besar orang lain akan mendengarmu.

1 komentar: